Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara & Kiat-kiat Membina Keluarga Yang Sakinah

Cara & Kiat-kiat Membina Keluarga Yang Sakinah Menurut Islam - Dalam kehidupan berumah tangga setiap orang pasti mendambakan keluarga yang sakinah / harmonis, sebab hidup di dalam keluarga yang sakinah — jangankan hidup serba kecukupan — sekalipun hidup serba kekurangan — apapun yang terjadi pasti akan terasa bahagia.

Sebagai gambaran, di dalam keluarga Nabi saw. — walaupun keluarga yang sangat sederhana dengan ukuran rumah 5 x 6 meter kadang Nabi menemukan makanan kadang puasa, Nabi tidak memiliki perlengkapan rumah tangga yang serba mewah tapi dari lisan Nabi sanggup keluar kata kata Baitii Jannatii (rumahku adalah surgaku).

Cara & Kiat-kiat Membina Keluarga Yang Sakinah

Lalu bagaimana menurut islam tata cara untuk mebina keluarga sakinah ? 

Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita perhatikan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh imam Daruquthni:

“Apabila Alloh menghendaki suatu keluarga yang baik atau sakinah maka Alloh akan memberikan kepahaman atau pengetahuan tentang agama pada keluarga tersebut dan yang kecil diantara anggota keluarga tersebut bisa menghargai atau menghormati pada lebih tua dan Alloh memberikan rijki berupa rasa kasih sayang di dalam kehidupannya atau Alloh memberikan sikap sederhana di dalam segi nafkahnya dan Alloh membukakan hati anggota keluarga tersebut untuk bisa melihat kekurangannya masing masing sehingga mereka bisa bertaubat dan apabila Alloh menghendaki suatu keluarga yang tidak sakinah maka Alloh akan menjadikan sebaliknya (HR. Daruquthni, Jami’ush Shoghir Hal .17).

Dari keterangan hadits diatas untuk mebina sebuah keluarga yang sakinah sekurang kurangnya ada lima point yang harus dipenuhi yaitu:

1. Seluruh anggota keluarga tersebut harus memiliki ilmu pengetahuan tentang agama dan harus terus menerus mencarinya terutama ilmu pengetahuan tentang kehidupan keluarga ini sesuai dengan hadits Nabi yang dieiwayatkan oleh imam Ahmad

“Barang siapa yang di klehendaki oleh Alloh dengan kebaikan maka Alloh akan 
memberikan pengertian tentang agama kepada orang tersebut.”  

Dan ada hadits lain yang berbunyi

“ Barang siapa yang mengharapkan kebahagiaan dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan kebahagiaan akhirat maka harus dengan ilmu dan barang siapa yang mengharapkan kedua duanya juga harus dengan ilmu.”

2. Harus saling menghargai diantara anggota keluarga terutama antara suami dan istri dengan cara memahami dam memenuhi seluruh hak dan kewajibannya masing masing karena di dalam kehidupan berkeluarga antara suami dan istri memiliki hak dan kewajiban. Sebagaimana firman Alloh swt dalam surat Al Baqoroh :

Artinya “ dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf (baik) 

Ayat ini menerangkan bahwa bagi seorang istri memiliki hak yang wajib dipenuhi oleh suaminya juga sebaliknya seorang istri punya kewajiban yang harus dipenuhi untuk suaminya.

Hak dan kewajiban suami istri itu banyak, namun diantaranya yang paling pokok kewajiban bagi suami wajib memberi nafkah baik nfkah lahir berupa makan dan nafkah bathin beruopa kasih sayang dan wajib memberi kiswah (pakaian) yang sesuai dengan kemampuan suami terhadap istrinya dan kewajiban istri yang harus dipenuhi adalah ta’at (turut terhadap suami) apapun yang menjadi kemauan atau perintah suami wajib seorang istri mena’atinya asal yang tidak dilarang atau bertentangan dengan agama juga mapu untuk melaksanakannya, dan apabila istri tidak ta’at kepada suaminya atau melakukan hal yang tidak diizinkan atau tidak  diridloinya oleh suaminya maka istri tersebut telah melakukan nusyuz (durhaka), dan  resiko bagi istri yang nusyuz tidak berhak mendapatkan nafkah dan kiswah (pakaian), suami pun tidak ada kewajiban untuk memberikannya selain itu istri yang nusyuz juga durhaka terhadap Alloh sebagai gambaran marilah kita cermati hadits dibawah ini riwayat Ath Thobroni:

Sesungguhnya seorang istri belum memenuhi hak Alloh apabila belum bisa memenuhi hak suaminya, andaikan seorang suami meminta kepada istrinya, dan istrinya berada diatas punggung unta atau kendaraan maka janganlah menolaknya.

Hadits ini menunjukkan bahwa betul betul seorang istri harus ta’at kepada suaminya dan masi banyak lagi hak dan kewajiban bagi suami dan istri yang lainnya.

Harus saling mencurahkan rasa kasih sayang di antara anggota keluarga terutama dari seorang suami yang menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga bahkan Nabi menerangkan dalam sebuah haditsnya:

Orang mumin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya dan yang paling lemah lembut penuh rasa kasih sayang pada keluarganya (anak dan istrinya).” (HR. turmudzi dan Nasa-i)

Seorang istri juga harus mencurahkan rasa kasih sayang terhdap suaminya sehingga suaminya betul-betul merasa bahagia, nyaman, dan bangga terhadap sang istri. Sesuai dengan hadits Nabi saw.:

“Istri yang mana saja yang mati dan suaminya meridloinya maka pasti (Istrinya)masuk surga.”  (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

3. Harus bersikap sederhana dalam memberikan nafakah kepada keluarganya (tidak berlebih-lebihan) dan tidak ngirit. Sebagaimana firman Alloh swt.:

“….. makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”  (QS. Al-A’rof : 31)

Dan dianjurkan di antara suami dan istri termasuk anak membiasakan ketika makan dilaksanakan secara bersama-sama (berjamaah). Sebab bila makan dilakukan dengan berjamaah, ini merupakan slah satu yang dapat mewarisi keberkahan. Bahkan Imam Sufyan Ats-Tsauri rh. berkata:

“Telah sampai kepada kita bahwa Alloh akan memberikan rahmat, dan para malaikat akan memintakan pengampunan bagi keluarga yang makan dengan cara berjamaah.” 

4. Untuk menjalian sebuah keluarga yang sakinah, masing-masing anggota keluarga harus saling introspeksi diri sehingga bisa saling menyadari kekurangan dan kelemahan masing-masing, baik yang menyangkut masalah pelayanan yang bersifat pribadi seperti sikap dan karakter masing-masing. Dan yang terutama yang bersangkutan dengan masalah hak dan kewajiban, karena tadi telah disebutkan bahwa begitu banyak hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suami dan istri. Dan banyak yang tidak bisa terpenuhi baik oleh suami terhadap istri atau sebaliknya. Dan hal ini kalau antara suami-istri tidak saling pengertian dan tidak saling memaafkan, maka kelak di hari akhirat akan diminta pertanggungjawaban. Oleh sebab itu apabila ada sebagian kewajiban yang tidak bisa dipenuhi oleh suaminya — kewajiban apapunm itu bentuknya, maka sang istri yang baik harus bisa mengerti dan memaafkannya, juga sebaliknya. Dan seperti itulah yang diterangkan oleh Sayyid al-Habib Abdulloh al-Haddad:

“Seorang suami yang sempurna akal dan imannya ialah suami suami yang memberikan keringanan apabila ada hak-haknya yang tidak bisa terpenuhi oleh istrinya, dan tidak memberikan keringanan terhadap hak-hak Alloh apabila istrinya tidak bisa memenuhinya.

Dan antara suami-istri harus bersabar, terutama ketika suami memiliki istri yang buruk akhlaknya atau sebaliknya. Sabar dalam arti terus berusaha untuk memperbaikinya, dan seandainya tidak bisa diperbaiki maka dipasrahkan / dikembalikan kepada Alloh. Sabda Nabi saw.:
3 jajar

“Barangsiapa yang bersabar menghadapi keburukan akhlak istrinya, maka Alloh akan memberikannya pahala seperti pahala yang telah diberikan pahala Nabi Ayyub as. atas segala musibah yang menimpanya. Dan barangsiapa yang sabar akan keburukan akhlah suaminya maka Alloh akan memberikannya pahala seperti pahalanya Siti Asiah (istrinya Fir’aun).”   (HR ……………………, Uquddulujain Hal ….)

Post a Comment for "Cara & Kiat-kiat Membina Keluarga Yang Sakinah"